Loading...

Senin, 04 April 2011

asuhan neonatus


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar belakang
1.    Diare
Penyakit diare kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 per seribu penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian dirumah sakit dapat ditekan menjadi kurang dari 3%. Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. (Ilmu Kesehatan Anak, 2005).
Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali. Gastroentritis sering dijuluki sebagai flu perut, pada dasarnya, diare dan muntah adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan racun dan patogen yang menyerang saluran pencernaan, dengan kata lain, gastroentritis adalah suatu mekanisme alamiah untuk melindungi saluran cerna. Jadi gastrointeritis itu adalah gejala, bukan penyakit. Gastrointritis merupakan alarm, pertanda ada sesuatu yang tengah menyerang saluran cerna. Yang pertama harus dilakukan adalah pikirkan penyebabnya, kedua, cegah terjadinya dehidrasi. (Bayiku Anakku dr. Purnawati S. Pujiarto, SPAK, MMPed, 2005).


2.    Obstipasi
Secara istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus). Gejala antara obstipasi dan konstipasi sangat mirip dimana terdapat kesukaran mengeluarkan feses (defekasi). Namun obstipasi dibedakan dari konstipasi berdasarkan penyebabnya ialah dimana konstipasi disebabkan selain dari obstruksi intestinal sedangkan obstipasi karena adanya obstruksi intestinal.
3.    Hirschsprung
Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel- sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily & Sowden : 2000 ). Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan 3 Kg, berat lahir£lebih banyak laki – laki dari pada perempuan.
4.    Hipotermi
Kehidupan Bayi Baru Lahir yang paling kritis adalah saat mengalami masa transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan extrauterin yang berubah secara mendadak. Salah satu masalah yang dialami bayi pada masa transisi ini salah satunya adalah hipotermi. Seorang bayi dikatakan mengalami hipotermi bila suhu badan bayi dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 °C. Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua kaki & tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C), disebut hipotermi berat bila suhu <32°C.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis dapat merumuskan permasalahannya  yaitu "Bagaimana diare, obstipasi, hirschsprung dan  hipotermi terjadi pada neonatus, bayi dan balita"?
C.   Tujuan
1)     Tujuan umum
Tujuan umum  dari makalah ini adalah untuk mengetahui Bagaimana diare, obstipasi, hirschsprung dan  hipotermi terjadi pada neonatus, bayi dan balita"?
2)     Tujuan khusus
·           Untuk mengetahui pengertian diare, obstipasi, hirschsprung, hipotermi !
·           Untuk mengetahui penyebab  diare, obstipasi, hirschsprung, hipotermi !
·           Untuk mengetahui tanda dan gejala diare, obstipasi, hirschsprung, hipotermi !
·           Untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan diare, obstipasi, hirschsprung, hipotermi !





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Diare
1.    Pengertian Diare
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)
2.    Penyebab Diare
·           Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
·           Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan sanitasi yang buruk
·           Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
·           Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
·           Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
·           Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
·           Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
·           Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
·           Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik).

3.    Jenis diare
·           Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
·           Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
·           Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri
4.    Tanda dan gejala Diare
·           Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare
·           Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering
·           Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
·           Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
·           Pucat anus dan sekitarnya lecet
·           Pengeluaran urin berkurang/tidak ada
·           Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak
·           Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
·           Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah
5.    Komplikasi
·           Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
·           Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
·           Penurunan berat badan dan malnutrisi
·           Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
·           Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
·           Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
·           Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)
6.    Penatalaksanaan
·           Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit
·           Terapi rehidrasi
·           Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya
·           Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan
·           Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik
·           Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses.

B.     OBSTIPASI
1.      Pengertian obstipasi
Obstipasi berasal dari bahasa Latin yaitu Ob berarti in the way = perjalanan dan Stipare berarti to compress = menekan. Secara istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus). Gejala antara obstipasi dan konstipasi sangat mirip dimana terdapat kesukaran mengeluarkan feses (defekasi).
2.      Penyebab obstipasi
a)     Faktor  non organik
·                Kurang makanan yang tinggi serat
·                Kurang cairan
·                Obat/zat kimiawi
·                Kelainan hormonal/metabolik
·                Kelainan psikososial
·                Perubahan mikroflora usus
·                Perubahan/kurang exercise
b)     Faktor organik
·                Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)
·                Kelainan otot dasar panggul
·                Kelainan persyarafan : M. Hirsprung
·                Kelainan dalam rongga panggul
·                Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus
3.      Tanda dan gejala obstipasi
·                 Frekuensi BAB kurang dari normal
·                 Gelisah, cengeng, rewel
·                 Menyusui/makan/minum kurang
·                 Feses keras
4.      Pemeriksaan penunjang
·                 Laboratorium (feses rutin, khusus)
·                 Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)
·                 Manometri
·                 USG
5.         Penatalaksanaan
·                 Banyak minum
·                 Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)
·                 Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi
·                 ASI lebih baik dari susu formula
·                 Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi
·                 Perawatan kulit peranatal

C.    Hirschsprung
1.      Pengertian hirschsprung
Ada beberapa pengertian mengenai Mega Colon, namun pada intinya sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.
Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily & Sowden : 2000 ). Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan 3 Kg, berat lahir
£ lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief )
2.      Penyebabnya hirschsprung
Adapun yang menjadi penyebab Hirschsprung atau Mega Colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.
3.      Patofisiologi hirschsprung
Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily & Sowden, 2002:197).
Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S & Wilson, 1995 : 141 ).

4.      Manifestasi Klinis
Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (Nelson, 2000 : 317). Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( Nelson, 2002 : 317 ).
5.      Penatalaksanaan Medis
Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.
Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :
a) Temporari ostomy.
b) Pembedahan koreksi
D.    Hipotermi
1.      Pengertian Hipotermi
Hipotermia adalah keadaan suhu badan yang abnormal (rendah) atau dibawah 36 °C.
2.      Prinsip Dasar
Suhu normal bayi, baru lahir berkisar 36,50C – 37,50C (suhu ketiak). Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki, dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (Suhu 320C – 360C). Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Hipotermia menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metoblis anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen, mengakibatkan hipoksemia dan berlanjut dengan kematian (Saifudin, 2002)
3.      Tanda – tanda hipotermia sedang :
v   Aktifitas berkurang, letargis
v   Tangisan lemah
v   Kulit berwarna tidak rata (cutis malviorata)
v   Kemampuan menghisap lemah
v   Kaki teraba dingin
v   Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin
4.      Tanda – tanda hipotermia berat
v   Aktifitas berkurang, letargis
v    Bibir dan kuku kebiruan
v   Pernafasan lambat
v   Pernafasan tidak teratur
v   Bunyi jantung lambat
v   Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik
v   Resiko untuk kematian bayi
5.      Tanda – tanda stadium lanjut hipotermia
v   Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
v   Bagian tubuh lainnya pucat\
v   Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)
v   Penyebab dan Resiko
1.         Penyebab utama
·               Kurang pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya mengeringkan bayi secepat mungkin
2.         Resiko untuk terjadinya hipoermia
·                     Perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir
·                      Bayi dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir
·                      Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur
·                     Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat).
·                    Bayi asfiksia, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis, sindrom dengan pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra kranial.  
·                     Faktor pencetus terjadinya hipotermia :
a)           Faktor lingkungan
b)           . Syok
c)             Infeksi
d)           Gangguan endokrin metabolik
e)           Kurang gizi, energi protein (KKP)
f)             Obat – obatan
g)            Aneka cuaca
h)            Prinsip dasar mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia.
i)             Tindakan Pada Hipotermia
j)             Pencegahan Hipotermia

BAB III
SIMPULAN

A.     Kesimpulan
1.      Diare
Terkadang kita sebagai manusia lalai terhadap kesehatan tubuh kita, sehingga tidak bisa menghindarkan diri dari makanan yang tidak higienis atau bersih dari segala macam bibit kuman dan penyakit. Apabila kita makanan yang tidak higienis maka kita bisa terserang penyakit pencernaan yang salah satu akibatnya adalah diare atau mencret-mencret. Selain itu diare dapat disebabkan oleh keracunan bahan kimia dalam makanan, masuk angin, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan lain sebagainya.
2.      Obstipasi
Secara istilah obstipasi adalah bentuk konstipasi parah dimana biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus). Gejala antara obstipasi dan konstipasi sangat mirip dimana terdapat kesukaran mengeluarkan feses (defekasi).
3.      Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat  3 Kg, berat lahir £ lebih banyak laki – laki dari pada perempuan.
4.      Hipotermi
Peran bidan sangat diperlukan untuk mencegah risiko yang diakibatkan oleh keadaan hipotermi yang dialami bayi. Oleh sebab itu pertolongan cara-cara mengatasi masalah transisi ini sangat penting bagi tenaga kesehatan khususnya bidan untuk dapat mempertahankan suhu bayi tetap normal dan dapat meningkatkan suhu bayi yang mengalami hipotermi. Untuk dapat mengambil sikap sesuai dengan peran bidan dalam memberikan pertolongan bagi bayi risiko tinggi perlu adanya pengetahuan sebelumnya tentang intervensi maternitas pada bayi risiko tinggi. Begitu juga menolong bayi risiko tinggi dengan hipotermi, perlu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berkualitas agar dapat memberikan asuhan maternitas yang tepat dan cepat pada bayi.
B.        Saran
Ada baiknya anda berkonsultasi dengan dokter dan meminta obat yang tepat untuk Bayi dan anak anda jika menderita penyakit diare, obstipasi, hirschsprung dan hipotermi, karena setiap orang memiliki karakteristik masing-masing dalam pemilihan obat. Rumah sakit, dokter praktek, puskesmas atau balai pengobatan lain yang sesuai izin depkes adalah pilihan yang tepat karena memiliki dokter yang baik dengan obat-obatan yang baik pula. Bila anda ragu datangi saja dokter lain untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.  Setalah mendapatkan obat minumlah obat itu sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan.


DAFTAR PUSTAKA


v  ttp://as-kep.blogspot.com/2009/04/asuhan-keperawatan-hirschsprung.htm









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar